Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Tolitoli kembali diselimuti duka. Seorang putra terbaiknya telah berpulang. Rustam Arifin Sombo, atau yang akrab disapa RAS, menutup perjalanan hidupnya, namun tidak dengan karya-karyanya. Sebab seorang seniman sejati tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hidup dalam setiap nada, setiap lukisan, setiap jejak yang pernah ditinggalkannya.
Rustam bukan sekadar seniman. Ia adalah penjaga ingatan budaya. Di usia yang semakin senja, semangat berkaryanya justru semakin menyala. Puluhan lagu terus lahir dari tangannya dan dipublikasikan melalui YouTube maupun media sosial, sebagai warisan agar generasi mendatang tetap mengenal seni dan budaya Lolak Tolitoli.
Suatu ketika, ia pernah bertanya dengan penuh harap, “Bagaimana caranya agar karya-karya saya tidak hilang? Bagaimana supaya semuanya bisa tersimpan di YouTube?” Kalimat sederhana itu kini terasa begitu dalam. Ia bukan sedang mengejar popularitas, melainkan berjuang agar jejak pengabdiannya kepada seni tidak ikut lenyap ditelan waktu.
Mimpi besarnya hanya satu: seni Lolak Tolitoli harus tetap hidup. Mimpi itu terus ia rawat hingga napas terakhirnya.
Tak banyak yang tahu, perjalanan kesenian Rustam bermula dari dunia lukis. Dengan tangannya, puluhan bahkan ratusan papan nama toko di Tolitoli hingga Kota Palu pernah ia goreskan. Dari kuas, ia kemudian merangkai nada, menjadikan seni sebagai jalan hidup yang tak pernah ia tinggalkan.
Kesempatan menginjakkan kaki di Eropa, bahkan hingga Perancis, tak pernah mengubah pribadinya. Rustam tetap sederhana, tetap membumi, tetap menjadi sosok yang akrab menyapa siapa saja. Bagi banyak orang, ia bukan hanya seniman, tetapi juga sahabat, saudara, dan guru kehidupan.
Kini, ayah dari beberapa anak dan cucu itu telah pergi menghadap Sang Pencipta. Namun kepergiannya meninggalkan ruang kosong yang sulit tergantikan. Tolitoli kehilangan seorang maestro yang mengabdikan hidupnya untuk berkesenian tanpa pamrih.
Selamat jalan, Rustam Arifin Sombo.
Terima kasih telah mengajarkan bahwa karya adalah cara manusia melawan lupa. Semoga setiap lagu yang engkau tinggalkan terus bergema, setiap lukisan tetap bercerita, dan setiap kenangan tentangmu menjadi inspirasi bagi lahirnya seniman-seniman baru di tanah Tolitoli.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahmu, mengampuni segala khilafmu, melapangkan kuburmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.
Selamat jalan, RAS. Ragamu telah tiada, tetapi namamu akan terus hidup dalam sejarah seni Tolitoli.***





