Proyek perbaikan irigasi Binontoan di Desa Giok, Kecamatan Tolitoli Utara, Sulawesi Tengah, justru memantik tanda tanya besar. Anggaran yang disebut-sebut mencapai Rp2 miliar dari Balai Wilayah Sungai (BWS) dinilai tidak menyentuh titik kerusakan utama, sehingga ratusan sawah warga tetap tak teraliri air.
Mantan anggota DPRD Tolitoli, Muhammad Mubarak SH, turun langsung meninjau lokasi. Dari hasil pengecekan lapangan, ia menemukan sedikitnya tiga titik saluran sekunder rusak parah yang menjadi penyebab air tak sampai ke areal persawahan.
Menurut Mubarak, kondisi ini ironis. Ia sebelumnya mendengar bahwa irigasi Binontoan telah diusulkan dan masuk dalam program perbaikan tahun ini. Namun fakta di lapangan berbeda jauh dari harapan petani.
“Masalah utamanya ada di saluran sekunder yang rusak sejak 2024. Tapi itu tidak disentuh. Akibatnya, sawah tetap kering,” ujarnya dengan nada kecewa.
Dampaknya tidak main-main. Sekitar 300 petak sawah di Desa Giok gagal digarap selama tiga musim tanam terakhir. Hamparan yang dulu ditanami padi kini berubah menjadi lahan rumput liar yang menjulang.
Asnar, salah seorang petani setempat, mengaku kondisi ini membuat warga terpukul. Ia menyebut petani tidak lagi bisa menanam karena air tidak mengalir ke sawah mereka.
“Sudah tiga musim kami tidak menanam. Kalau terus begini, warga bisa kelaparan,” kata Asnar.
Para petani sebenarnya tidak menuntut perbaikan besar dalam waktu singkat. Mereka hanya meminta solusi darurat, seperti pemasangan talang di tiga titik rusak agar air kembali mengalir.
“Walaupun hanya darurat, asal air bisa masuk ke sawah, itu sudah cukup untuk kami mulai tanam lagi,” tambahnya.
Kepala Desa Binontoan, Taufik, membenarkan bahwa ada pekerjaan perbaikan tahun ini. Namun, pekerjaan dimulai dari saluran induk sehingga belum menyentuh saluran sekunder yang rusak parah.
“Saya sudah sampaikan agar titik rusak itu diprioritaskan. Tapi pengerjaan dimulai dari induk, jadi belum sampai ke bagian yang paling dibutuhkan petani,” jelas Taufik.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik soal efektivitas proyek irigasi Binontoan. Dengan anggaran miliaran rupiah, warga berharap perbaikan benar-benar menjawab persoalan riil di lapangan, bukan sekadar proyek fisik tanpa dampak bagi 300 sawah yang kini terancam terus terbengkalai.ahmad***








