TOLITOLI – Proyek irigasi Binontoan di Desa Binontoan dan Gio, Kecamatan Tolitoli Utara, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, kembali menjadi sorotan tajam. Warga menduga pekerjaan irigasi yang dilaksanakan tidak sesuai dengan kebutuhan mendesak di lapangan, sehingga hingga kini belum memberikan manfaat nyata bagi ratusan petani.
Akibatnya, petani di wilayah irigasi Binontoan mengaku sudah tiga musim tanam berturut-turut gagal menanam padi. Sawah yang sebelumnya produktif kini berubah menjadi lahan kering dipenuhi rumput liar karena pasokan air tak kunjung mengalir.
Dua warga, Rustandi dan Asdar, kepada TEMPOnamo menyampaikan kekecewaan mereka saat ditemui secara terpisah di lokasi persawahan Binontoan dan Gio serta di Desa Binontoan.
“Kami belum bisa rasakan manfaatnya. Sawah tetap kering,” ujar Rustandi dengan nada kecewa.
Menurutnya, pekerjaan irigasi yang dilakukan tidak menyentuh titik kerusakan utama yang selama ini menjadi penyebab air tidak sampai ke lahan pertanian warga.
Hal senada disampaikan Asdar. Ia menegaskan, sejak awal masyarakat telah memberikan masukan agar perbaikan difokuskan pada saluran yang rusak parah terlebih dahulu. Namun, saran tersebut dinilai tidak dihiraukan.
“Kami minta yang rusak dulu diperbaiki supaya air bisa mengalir. Tapi tidak digubris,” tegasnya.
Warga menduga proyek irigasi Binontoan yang dikerjakan oleh pihak terkait tidak sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan. Mereka menilai pekerjaan terkesan tidak tepat sasaran, sehingga manfaatnya belum dirasakan hingga saat ini.
Kondisi ini berdampak serius terhadap ekonomi masyarakat. Ratusan petani kehilangan sumber penghasilan utama karena tidak bisa menanam padi selama tiga musim. Jika kondisi ini terus berlanjut, warga khawatir ketahanan pangan di Kecamatan Tolitoli Utara ikut terancam.
Warga pun meminta pemerintah segera turun tangan. Mereka berharap Balai Wilayah Sungai (BWS) bersama pemerintah daerah melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap hasil pekerjaan irigasi tersebut.
“Kami minta pemerintah, khususnya BWS, turun langsung memeriksa hasil pekerjaan ini. Karena menurut kami tidak bermanfaat,” kata Rustandi.
Sorotan terhadap proyek irigasi Binontoan ini juga mendapat perhatian dari anggota DPRD Tolitoli, Taufik SE. Pada pekan ini, ia turun langsung meninjau kondisi saluran irigasi serta mendengarkan keluhan masyarakat di lokasi persawahan.
Dalam kunjungannya, Taufik melihat sejumlah titik yang diduga menjadi penyebab utama air tidak mengalir maksimal ke lahan pertanian warga. Ia berjanji akan menindaklanjuti aspirasi masyarakat dan mendorong adanya evaluasi serta langkah perbaikan secepatnya.
Kasus irigasi Binontoan Tolitoli ini menambah daftar persoalan infrastruktur pertanian yang perlu mendapat perhatian serius. Warga berharap, evaluasi tidak hanya sebatas janji, tetapi benar-benar diikuti tindakan konkret agar sawah mereka kembali dialiri air dan petani bisa kembali menanam seperti sediakala.
“Yang kami inginkan sederhana, air mengalir dan kami bisa tanam lagi,” tutup Asdar.
Haru! Perpisahan Kadis Pendidikan Tolitoli Usman Taba di SDN Sibea, Insan Pendidikan Lampasio Gelar Buka Puasa Bersama
TEMPOnamo– Suasana haru bercampur keakraban mewarnai acara perpisahan purna tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tolitoli, Usman Taba, SE., MM., MH., yang digelar di SDN Sibea, Kecamatan Lampasio, Senin…








