TOLITOLI – Semangat persaudaraan lintas budaya kembali ditunjukkan melalui kegiatan Tudang Sipulung (duduk bersama) yang digelar Paguyuban Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tolitoli bersama Raja (Gaukan) Tolitoli XVII, H. Moh. Saleh Bantilan, di kediaman Andi W. Arifuddin, Rabu.
Kegiatan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan itu dihadiri Gaukan XVII H. Moh. Saleh Bantilan yang didampingi Ketua Dewan Adat Tolitoli H. Ibrahim Sauda, Ketua KKSS Kabupaten Tolitoli Andi Ahmad Syarif, serta jajaran pengurus dan tokoh masyarakat.
Bagi masyarakat Bugis-Makassar, Tudang Sipulung bukan sekadar duduk bersama, tetapi merupakan tradisi musyawarah yang sarat makna. Forum tersebut menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi, menyatukan pandangan, menyelesaikan persoalan melalui dialog, sekaligus memperkokoh nilai persaudaraan.
Dalam konteks Tolitoli yang dihuni beragam suku dan budaya, pertemuan ini memiliki makna yang lebih luas. Duduk bersama antara keluarga besar KKSS dengan Raja Tolitoli mencerminkan komitmen bersama menjaga harmoni sosial, menghormati adat-istiadat daerah, serta memperkuat persatuan di tengah keberagaman.
Kehadiran Gaukan XVII bersama Ketua Dewan Adat menjadi simbol bahwa hubungan masyarakat pendatang dengan masyarakat adat Tolitoli selama ini dibangun di atas rasa saling menghormati. Nilai tersebut menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas sosial dan mendukung pembangunan daerah.
Sementara itu, Ketua KKSS Kabupaten Tolitoli Andi Ahmad Syarif menegaskan bahwa KKSS akan terus menjadikan silaturahmi sebagai fondasi utama organisasi. Melalui forum seperti Tudang Sipulung, komunikasi antarelemen masyarakat dapat terus terjalin sehingga berbagai persoalan dapat diselesaikan dengan semangat kekeluargaan.
Acara berlangsung sederhana namun penuh makna. Canda, dialog, dan kebersamaan yang terbangun menunjukkan bahwa perbedaan latar belakang budaya bukan menjadi penghalang, melainkan kekuatan untuk saling melengkapi.
Bagi Tolitoli, gagasan Tudang Sipulung ini menjadi pesan bahwa menjaga persatuan tidak selalu dilakukan melalui forum formal. Duduk bersama, saling mendengar, dan menghargai kearifan lokal justru menjadi cara yang paling efektif untuk merawat kerukunan.
Momentum ini diharapkan menjadi tradisi yang terus dilestarikan sebagai wadah memperkuat sinergi antara lembaga adat, paguyuban, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen daerah dalam mewujudkan Tolitoli yang aman, damai, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai budaya.






